MANADO, swararakyat.id – Pengurus Ikatan Wartawan Online (IWO) se-Sulawesi Utara periode 2026-2030 resmi dilantik di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Rabu (30/9/2026).
Sekitar 38 jurnalis hadir dan dilantik secara langsung dalam agenda tersebut. Pelantikan turut disaksikan Ketua Umum Pengurus IWO Pusat, Dwi Christianto, S.H., M.Si., bersama sejumlah Dewan Pembina, Dewan Kehormatan dan Dewan Etik IWO.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin Dokter Suryadi. Acara dipandu Kepala Humas BPS Sulut, Brigita, selaku pembawa acara.
Dalam prosesi pelantikan, Ketua Umum IWO Pusat membacakan Surat Keputusan sekaligus memaparkan riwayat terbentuknya organisasi IWO serta susunan kepengurusan IWO Sulawesi Utara periode 2026-2030.
Ketua IWO Sulawesi Utara, Jeane Rondonuwu, menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh pengurus, undangan dan narasumber yang mengambil bagian dalam momentum tersebut.

Menurut Jeane, pelantikan bukan sekadar seremoni organisasi, tetapi menjadi titik awal bagi IWO Sulut untuk memberikan dampak melalui kerja jurnalistik yang menghasilkan informasi publik yang bermanfaat.
“Kami merayakan kebanggaan kami sebagai wartawan online. Kami juga sekaligus menggelar panel dengan narasumber yang kompeten agar kami menyalurkan informasi publik yang berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat. Kami berterima kasih atas kehadiran para undangan dan narasumber,” ujar Jeane.
Sementara itu, Ketua Umum IWO Pusat Dwi Christianto menekankan pentingnya peran media dalam menghadirkan informasi yang akurat, khususnya di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap data dan informasi ekonomi.
Menurutnya, data yang akurat, kebijakan yang tepat sasaran serta pemberitaan yang mampu menjelaskan kondisi ekonomi secara benar merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem investasi daerah.
IWO Diminta Jadi Filter Informasi
Dalam konteks tersebut, Dwi berharap media, khususnya IWO Sulawesi Utara, dapat mengambil peran sebagai penyaring informasi yang diterima masyarakat.
Media, kata dia, tidak cukup hanya cepat dalam menyampaikan informasi. Kecepatan harus berjalan bersama akurasi, verifikasi dan kebermanfaatan bagi publik.
“Sekecil apa pun peran media, IWO di Sulut menginformasikan hal yang benar, cepat dan berita berdampak untuk masyarakat,” kata Dwi.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengurus wilayah dan daerah IWO yang telah mengambil bagian dalam organisasi.
“Saya ucapkan terima kasih untuk pengurus wilayah dan daerah IWO. Sebisa mungkin jurnalis IWO berdampak yang positif,” ujarnya.

Dwi juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya pelantikan dan rangkaian kegiatan tersebut.
Jurnalisme Dihadapkan pada Hoaks, Deepfake dan AI
Sambutan Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus Komaling, S.E., yang diwakili Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Daerah (DKIPSD) Sulawesi Utara, Dr. Zainudin Saleh Hilimi, S.E., M.E., Ak., CA., turut menyoroti tantangan dunia jurnalistik di tengah perkembangan teknologi.
Yulius menyampaikan selamat kepada seluruh pengurus IWO yang baru dilantik. Ia menilai pelantikan tersebut menjadi momentum penting karena dilanjutkan dengan diskusi panel mengenai “Jurnalisme Era Disrupsi” serta diskusi panel ekonomi bertema “Volatilitas Pasar, Data dan Pascasensus Ekonomi 2026.”
Menurutnya, dunia jurnalistik tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), hoaks hingga deepfake menghadirkan tantangan baru bagi jurnalis.
Teknologi memang memungkinkan pekerjaan jurnalistik dilakukan lebih cepat dan tanpa batas ruang serta waktu. Namun, perkembangan tersebut tidak boleh menggeser prinsip dasar jurnalistik berupa akurasi, verifikasi dan profesionalisme.
“Dunia jurnalistik tidak bisa dipisahkan dengan teknologi. Deepfake, hoaks dan AI merupakan tantangan. Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat tanpa batas ruang dan waktu, namun jangan sampai mengubah prinsip akurasi berita dan profesionalisme,” demikian pesan Yulius yang disampaikan melalui sambutannya.
Ia menekankan, jurnalis di era disrupsi harus mampu membedakan fakta dan opini serta melakukan verifikasi sebelum sebuah informasi disebarluaskan kepada masyarakat.
Pelantikan IWO Sulawesi Utara periode 2026-2030 tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang mempertemukan isu jurnalisme, teknologi, data dan ekonomi.
Rangkaian kegiatan ini menempatkan jurnalis bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang beredar di tengah masyarakat tetap faktual, terverifikasi dan memiliki nilai publik.(*)

