Catatan Akhir Pekan: Dua Jam Bersama Olly Dondokambey, Menelusuri Sejarah Pemekaran Minahasa Utara dan Membaca Jejak Visi Pembangunan Sulawesi Utara.
Oleh : Reymoond ‘Kex’ Mudami
Ada pengalaman menarik yang kadang justru menjadi pembuka sebuah cerita besar.
Kemarin, bersama Denny R. Wowiling, kami berkesempatan bertemu Olly Dondokambey di kediamannya, Cempaka Kolongan. Ada sedikit cerita lucu sebelum pertemuan itu berlangsung. Begitu luasnya kompleks kediaman tersebut, sampai-sampai saat masuk maupun ketika hendak keluar, kami seperti kehilangan arah. Nyaris tersesat di dalam kawasan rumah sendiri.
Namun, justru di situlah pengalaman menarik itu dimulai.
Kami tidak diterima di rumah utama. Pak Olly memilih menemui kami di sebuah rumah kecil di bagian lain kompleks kediamannya. Sebuah tempat yang terasa jauh dari hiruk-pikuk formalitas. Di sekelilingnya terdapat mata air, telaga, dan kandang sapi. Suasana yang teduh, alami, dan bersahaja.
Pak Olly duduk santai. Tidak ada kesan pertemuan politik yang kaku. Tidak ada jarak yang sengaja dibangun. Kami datang dengan satu tujuan: meminta arahan, pandangan, sekaligus menggali ingatan dan kesaksian tentang perjalanan panjang pembentukan Kabupaten Minahasa Utara.
Sebab, Olly Dondokambey bukan sekadar orang yang mengetahui sejarah itu. Ia adalah salah satu bagian dari perjalanan sejarahnya, sejak gagasan awal pemekaran, dinamika perjuangan, lobi-lobi politik, hingga deklarasi pembentukan Kabupaten Minahasa Utara.
Dua jam kemudian, kami menyadari bahwa pertemuan itu jauh lebih kaya daripada yang semula kami bayangkan.
Ketika Ingatan Sejarah Bertemu Pengalaman Kekuasaan
Pak Olly menuturkan banyak hal dengan runtut. Ia mengurai peran berbagai pihak, dinamika komunikasi, lobi-lobi politik, serta proses membangun komitmen agar aspirasi pemekaran tidak berhenti sebagai sebuah keinginan masyarakat.
Ada banyak nama, peristiwa, dan momentum yang kembali menemukan tempatnya dalam rangkaian cerita tersebut.
Yang menarik, ia tidak hanya melihat pemekaran sebagai urusan membentuk wilayah administratif baru. Baginya, pemekaran harus memiliki makna lebih jauh: menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat, membuka ruang pertumbuhan ekonomi, mempercepat pembangunan, dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.
Di titik ini, percakapan mulai bergerak melampaui sejarah.
Ketika membicarakan Minahasa Utara, pembicaraan kemudian mengalir pada pembangunan jalan tol, pengembangan destinasi pariwisata Likupang, hingga Bendungan Kuwil. Semua dibicarakan dalam satu tarikan pemikiran tentang bagaimana sebuah daerah harus dibangun dengan perencanaan, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan membaca potensi masa depan.
Saya menangkap sesuatu yang menarik dari cara Pak Olly menjelaskan.
Ia tidak sekadar menyebut proyek, angka, atau capaian pembangunan. Ia mampu menghubungkan satu kebijakan dengan kebijakan lainnya. Infrastruktur bukan hanya jalan dan jembatan, tetapi pembuka akses ekonomi. Pariwisata bukan sekadar destinasi, melainkan peluang investasi dan lapangan kerja. Bendungan bukan hanya bangunan fisik, tetapi bagian dari pengelolaan sumber daya dan kebutuhan masyarakat.
Di sinilah terlihat keluasan perspektifnya.
Mengenali Kapasitas di Balik Sikap yang Tenang
Saya pernah menulis tentang Olly Dondokambey sebagai sosok yang menyimpan kekuatan besar di balik penampilannya yang cenderung biasa-biasa saja.
Pertemuan kemarin kembali memberi saya alasan untuk melihatnya dari sudut yang lebih dalam.
Ada kapasitas manajemen kepemimpinan yang terlihat dari cara ia membaca persoalan. Ada pemahaman mengenai anggaran, ekonomi, pembangunan wilayah, dan pariwisata. Ada pula kemampuan merangkai berbagai kepentingan menjadi sebuah agenda pembangunan yang lebih besar.
Pengalaman sebagai Gubernur Sulawesi Utara selama dua periode tampaknya memberikan ruang baginya untuk memahami bagaimana sebuah gagasan harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan kemudian diwujudkan dalam program pembangunan.
Tentu, setiap kebijakan dan capaian pembangunan tetap perlu dibaca secara kritis melalui data dan evaluasi. Namun, sebagai sebuah percakapan, kami mendapatkan gambaran tentang bagaimana seorang pemimpin memandang hubungan antara gagasan, kekuasaan, anggaran, dan hasil pembangunan.
Saya juga kembali melihat satu karakter yang selama ini menjadi ciri Olly: tenang, tidak terburu-buru, tetapi memiliki kemampuan menjelaskan sesuatu dengan perspektif yang luas.
Ia seperti sedang membuka kembali peta perjalanan yang pernah dilaluinya, sembari menunjukkan jalan-jalan yang masih terbuka untuk masa depan.
Di Antara Politik, Pembangunan, dan Panggilan Iman
Ada satu bagian lain yang membuat percakapan itu terasa lebih manusiawi.
Di tengah pembicaraan mengenai pemekaran, pembangunan infrastruktur, ekonomi, dan pariwisata, terselip pula cerita tentang panggilan membangun rumah ibadah.
Sebuah sisi yang mengingatkan bahwa kehidupan seorang tokoh tidak sepenuhnya dapat dibaca melalui jabatan politik dan kekuasaan. Ada dimensi pengabdian, keyakinan, dan tanggung jawab sosial yang ikut membentuk perjalanan hidupnya.
Mungkin inilah yang membuat pertemuan tersebut terasa berbeda. Kami datang untuk berbicara tentang sejarah sebuah kabupaten, tetapi pulang dengan banyak perspektif mengenai kepemimpinan dan kehidupan.
Dua Jam yang Tidak Selesai Ketika Pertemuan Berakhir
Bagi kami, dua jam di rumah kecil Cempaka Kolongan itu bukan sekadar agenda silaturahmi atau wawancara untuk melengkapi bahan penulisan buku sejarah Minahasa Utara.
Ada pelajaran tentang bagaimana sebuah gagasan diperjuangkan. Bagaimana lobi dan komunikasi menjadi bagian dari perjalanan politik. Bagaimana sebuah wilayah yang lahir dari aspirasi harus terus diisi dengan pembangunan yang memiliki arah dan keberlanjutan.
Dan yang tidak kalah penting, bagaimana pengalaman panjang dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Saya dan Denny R. Wowiling tentu masih memiliki pekerjaan rumah. Banyak cerita yang perlu dicatat, nama yang perlu diverifikasi, dokumen yang perlu dicari, serta peristiwa yang harus ditempatkan secara tepat dalam kronologi sejarah.
Sebab, menulis sejarah bukan sekadar mengumpulkan cerita orang-orang yang pernah terlibat. Ia menuntut ketelitian, keseimbangan, dan tanggung jawab agar setiap kesaksian menemukan tempatnya dalam fakta.
Tetapi, satu hal yang pasti, pertemuan kemarin memberi kami energi baru.
Dan saya kembali teringat pada pengalaman kecil ketika kami datang dan sempat seperti tersesat di luasnya kompleks Cempaka Kolongan.
Lucu memang. Kami sempat kehilangan arah ketika mencari jalan masuk dan keluar. Tetapi selama dua jam percakapan, justru kami menemukan banyak arah baru dalam memahami sejarah dan masa depan Minahasa Utara.
Barangkali itulah makna paling menarik dari pertemuan kemarin.
Di sebuah rumah kecil, di tengah mata air dan telaga, kami menemukan pikiran besar.
Dua jam yang penuh makna. Dua jam yang visioner

