TOMOHON, swararakyat.id – Kamis pagi di Kelurahan Lansot, Kota Tomohon, terasa berbeda. Di BPU Kelurahan Lansot, masyarakat datang bukan sekadar untuk mengikuti sebuah kegiatan sosial, tetapi untuk mendapatkan perhatian dan pelayanan yang mungkin bagi sebagian warga begitu berarti.
Di tempat itu, pelayanan kesehatan menjadi bahasa sederhana untuk menyampaikan sebuah pesan besar: kepedulian kepada sesama tidak mengenal batas organisasi maupun sinode.
Bakti Sosial Pelayanan Kesehatan Lintas Sinodal Tahun 2026 mempertemukan GPIB melalui Yayasan Kesehatan GPIB, GMIM dan Pemerintah Kota Tomohon dalam sebuah pelayanan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Wali Kota Tomohon Caroll J.A. Senduk, S.H., hadir didampingi Ketua TP-PKK Daerah Kota Tomohon drg. Jeand’arc Senduk-Karundeng, bersama Wakil Wali Kota Sendy G.A. Rumajar, S.E.
Hadir pula Ketua Umum Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) GPIB Pendeta Nitis Putrasana Harsono, M.Th., bersama tim Yayasan Kesehatan GPIB dan jajaran Pemerintah Kota Tomohon.

Bukan Sekadar Berobat
Bagi masyarakat yang datang, kegiatan tersebut tentu memiliki arti praktis: mendapatkan pelayanan kesehatan.
Namun di balik itu, ada sesuatu yang tidak kalah penting—perasaan bahwa mereka diperhatikan.
Sebuah pemeriksaan kesehatan, sapaan dari petugas, perhatian terhadap keluhan warga, hingga kesempatan mendapatkan pelayanan secara langsung, menjadi bagian dari wajah kemanusiaan yang hadir di tengah masyarakat.
Di sinilah makna bakti sosial terasa.
Pelayanan tidak lagi hanya berbicara tentang program. Ia berubah menjadi perjumpaan antara mereka yang ingin membantu dan mereka yang membutuhkan perhatian.
Wali Kota: Tomohon Bersyukur
Wali Kota Caroll Senduk menyambut penuh rasa syukur kehadiran kegiatan tersebut.
Baginya, pelayanan kesehatan yang digelar di Kota Tomohon memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan.
“Tentu kami Pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon sangat bersyukur dengan dilaksanakannya kegiatan bakti sosial ini. Pasti kegiatan ini akan sangat bermanfaat bagi kami dan tentu seluruh masyarakat yang ada di Kota Tomohon ini,” ujar Caroll.
Nada syukur itu juga menjadi bentuk penghargaan Pemerintah Kota Tomohon kepada GPIB melalui Yayasan Kesehatan GPIB yang telah memilih Tomohon sebagai salah satu lokasi pelaksanaan pelayanan kesehatan lintas sinodal.
Bagi Caroll, kehadiran GPIB di Kota Tomohon bukan hanya membawa sebuah kegiatan, tetapi juga membawa semangat untuk berbagi.
Ketika Perbedaan Menjadi Kekuatan
Ada sesuatu yang menarik dari kegiatan tersebut.
GPIB dan GMIM berada dalam ruang pelayanan yang sama. Pemerintah Kota Tomohon pun hadir menjadi bagian dari kebersamaan tersebut.
Perbedaan latar belakang organisasi tidak menjadi sekat.
Sebaliknya, semuanya bertemu dalam satu kepentingan yang jauh lebih besar: masyarakat.
Pelayanan kesehatan menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai pihak dalam semangat kemanusiaan.
Di tengah kehidupan yang terus bergerak, pesan seperti ini terasa penting. Bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Terkadang, cukup dengan hadir dan memberikan pelayanan kepada mereka yang membutuhkan.
“Sangat Memberkati Kota Tomohon”
Caroll Senduk pun mengembalikan seluruh pelayanan tersebut pada nilai spiritual yang menjadi dasar kegiatan.
“Sekali lagi kami menyampaikan banyak terima kasih atas kegiatan ini yang boleh diselenggarakan di Kota Tomohon. Tentu semua kegiatan ini kami kembalikan juga kepada kemuliaan nama Tuhan,” ungkapnya.
Baginya, pelayanan yang diberikan bukan sekadar aktivitas sosial.
Ada nilai pengabdian yang jauh lebih dalam.
“Pelaksanaan ini sungguh-sungguh sangat memberkati Kota Tomohon melalui Sinode GPIB yang boleh hadir di Kota Tomohon. Sekali lagi terima kasih dan Tuhan memberkati torang semua,” tuturnya.
Dari Lansot untuk Sesama
BPU Kelurahan Lansot hari itu menjadi lebih dari sekadar tempat kegiatan.
Ia menjadi ruang perjumpaan.
Ruang di mana pelayanan kesehatan bertemu dengan kepedulian. Ruang di mana gereja dan pemerintah berjalan berdampingan. Dan ruang di mana masyarakat merasakan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Bakti sosial tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia tidak hanya berbicara tentang angka dan program, tetapi juga tentang bagaimana seseorang merasa diperhatikan.
Dari Lansot, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan:
ketika tangan yang berbeda saling menggenggam dalam pelayanan, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
GPIB melalui Yayasan Kesehatan GPIB, GMIM dan Pemerintah Kota Tomohon telah memperlihatkan bahwa pelayanan lintas sinodal bukan sekadar pertemuan organisasi.
Ia adalah tentang manusia.
Tentang kepedulian.
Tentang hadir bagi sesama.
Dan tentang bagaimana sebuah pelayanan kecil dapat meninggalkan rasa syukur yang besar di hati masyarakat. (*)

