peliput: Yaziin Solichin
TAHUNA, Swararakyat.id. Deru kapal meninggalkan dermaga Manado menyisakan aroma garam dan semangat membara.
Di atas geladak, seorang pria paruh baya dengan tatapan teduh memandangi para pemain mudanya.
Itulah Aghaton, manajer tim BJE Sulut, yang sedang menunaikan misi besar: membawa tiga tim kebanggaan Sulawesi Utara ke ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) U19 antar klub se-Sulut yang digelar di Bumi Nyiur Melambai, Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Perjalanan panjang kapal laut menjadi saksi bisu persiapan matang yang telah dilakoni Aghaton. Tanggung jawab besar ini ia emban setelah dipercaya untuk memimpin rombongan yang terdiri dari dua tim putra dan satu tim putri.
“Ini adalah tantangan nyata,” ujar Aghaton mengenang, “bagaimana mengatur anak-anak yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP.”

Panggilan “Anak-anak” bukanlah sekadar kiasan. Aghaton mengakui, mengurus tim BJE Sulut yang sarat dengan “bocil-bocil” (sebutan akrab untuk anak muda) membutuhkan kesabaran ekstra dan perhatian penuh layaknya seorang ayah.
Namun, di balik usia belia, ia melihat bakat dan api juang yang menyala-nyala.
Setibanya di Tahuna, ritme perjuangan tak berhenti. Mulai dari urusan logistik hotel hingga antar-jemput para pemain ke GOR Membara, semua menjadi pundaknya.
Ia bergerak sigap, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Kerja keras tim di belakang layar ini menjadi fondasi kokoh bagi para pemain untuk tampil di lapangan.
Ujian terbesar datang saat dua atlet andalan utama harus absen karena cedera. Bagi Aghaton, ini adalah momen untuk membuktikan kapasitasnya sebagai manajer.
Ia makin fokus, memberikan motivasi ekstra, dan memastikan para pemain yang tersisa tetap solid. “Situasi ini justru membuat kami lebih kompak,” kenangnya.
Dan, jerih payah itu pun berbuah manis. BJE Sulut A keluar sebagai juara, sementara tim putri berhasil merebut posisi keempat yang membanggakan.
Sorak sorai di GOR Membara menjadi puncak dari perjalanan panjang yang melelahkan.
Saat piala diangkat, rasa lelah yang menggunung selama berhari-hari seketika sirna.
“Sebagai manajer, ini adalah kepuasan tertinggi. Rasa bangga ini bukan hanya milik tim, tapi juga milik kita semua yang telah bekerja keras. Ini adalah keberhasilan kita bersama,” pungkas Aghaton dengan suara bergetar.
Bagi pria kelahiran Kepulauan Sangihe ini, kemenangan di tanah kelahiran adalah cerita yang akan selalu dikenang.
Bukan sekadar tentang trofi, melainkan tentang perjalanan, pengorbanan, dan dedikasi untuk para “bocil” yang berhasil menjadi juara.(*)

