Peliput : Yaziin Solichin — Mediakontras.com
TAHUNA, Mediakontras.com — Ombak datang dan pergi, membentur karang di tepian Tahuna Beach & Resort. Angin laut berembus pelan, membawa aroma khas pesisir Sangihe. Di tempat seperti ini, wisatawan mungkin datang untuk mencari ketenangan, menikmati panorama, atau sekadar melepas penat.
Tetapi ada satu hal yang sering kali tidak terlihat dari sebuah resort: orang-orang yang bekerja di balik keramahan pelayanan.
Di Tahuna Beach & Resort, wajah itu salah satunya adalah Putu Anom Darmaya.

Manajer yang juga dipercaya menjalankan fungsi Public Relation ini bukan tipe pemimpin yang menjaga jarak dengan anak buahnya. Ia justru memilih pendekatan yang sederhana—membangun suasana kerja seperti sebuah keluarga.
Bukan tanpa alasan.
Menurut Putu, karyawan yang merasa dihargai dan menjadi bagian dari tempatnya bekerja akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih kuat.
“Dengan menerapkan sistem kekeluargaan, semua terasa lebih mudah untuk mewujudkan kinerja yang optimal. Para karyawan tidak merasa seperti buruh, tetapi mereka adalah bagian dari keluarga besar Tahuna,” ujar pria lulusan SMANSA Makassar tersebut.
Ketika Karyawan Merasa Memiliki
Dalam industri perhotelan, pelayanan adalah wajah utama sebuah usaha.
Tamu mungkin tidak mengetahui siapa yang berada di balik layar. Namun mereka akan segera merasakan apakah sebuah tempat dikelola dengan hati atau sekadar menjalankan rutinitas.
Putu memilih pendekatan yang menempatkan karyawan sebagai bagian penting dari perjalanan resort.
Ia tidak ingin para pekerja hanya datang, menjalankan tugas, kemudian pulang. Lebih dari itu, ia ingin tumbuh rasa memiliki terhadap tempat mereka bekerja.
“Kami menerapkan kekeluargaan dalam menjalankan tugas masing-masing karyawan. Karena dengan ini, mereka merasa memiliki hotel ini,” tuturnya.

Rasa memiliki itulah yang kemudian diharapkan melahirkan pelayanan yang tulus.
Sebab keramahan yang dipaksakan akan terasa berbeda dengan keramahan yang muncul dari kesadaran.
Hangat, Tapi Tetap Tegas
Namun jangan salah mengartikan konsep kekeluargaan yang diterapkan Putu.
Kekeluargaan bukan berarti bebas dari aturan.
Justru, disiplin tetap menjadi bagian penting dalam manajemen resort. Dalam dunia hospitality, satu kesalahan kecil dapat memengaruhi pengalaman seorang tamu.
Karena itu, prinsip tamu adalah raja menjadi salah satu pegangan.
Pelayanan prima harus dijaga. Kerapian, ketepatan waktu, kesiapsiagaan dan tanggung jawab menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan.
Salah satu bentuk penerapan kedisiplinan tersebut terlihat dari rutinitas apel pagi bagi bagian keamanan.
Sederhana, tetapi penting.
Karena sebuah resort tidak hanya membutuhkan senyum ramah di meja pelayanan, tetapi juga kesiapan seluruh personel untuk memastikan tamu merasa aman dan nyaman.
Di sinilah gaya kepemimpinan Putu menemukan keseimbangannya. Dekat dengan karyawan, tetapi tidak kehilangan ketegasan.
Resort yang Ingin Terasa Seperti Rumah
Ada perbedaan antara sekadar menginap dan merasa diterima.
Hotel bisa menyediakan tempat tidur nyaman, restoran, kolam renang, pemandangan laut dan berbagai fasilitas lainnya. Tetapi pengalaman seorang tamu sering kali ditentukan oleh hal yang jauh lebih sederhana: bagaimana ia diperlakukan.
Itulah yang coba dibangun di Tahuna Beach & Resort.
Manajemen kekeluargaan di internal kemudian menjadi energi untuk menciptakan suasana yang lebih hangat kepada para tamu.
Bukan sekadar guest, tetapi seseorang yang datang dan diharapkan pulang membawa kesan baik tentang Tahuna.
Pemandangan pantai mungkin menjadi alasan pertama wisatawan datang.
Namun keramahan manusia di dalamnya bisa menjadi alasan untuk kembali.
Dari Tahuna untuk Dunia
Di tengah percakapan, Putu kemudian menyampaikan sebuah ajakan dengan logat khas yang begitu akrab di telinga masyarakat Sangihe.
“Ndai e sarang Tahuna!”
Mari jo ke Tahuna!
Kalimat pendek itu terdengar seperti slogan spontan, tetapi menyimpan semangat besar untuk memperkenalkan Tahuna kepada lebih banyak orang.
Ia mengajak wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, untuk datang menikmati Kepulauan Sangihe—daerah yang kaya akan pesona bahari sekaligus dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil rempah seperti cengkeh dan pala.
“Kami siap menerima para wisatawan dengan fasilitas di Tahuna Beach & Resort yang sangat mumpuni. Sambil beristirahat, nikmati keindahan pantai yang sejuk,” katanya.
Putu mengucapkannya sembari menatap laut biru yang terbentang di depan resort.
Lebih dari Sekadar Tempat Menginap
Pada akhirnya, Tahuna Beach & Resort bukan hanya tentang kamar dan fasilitas.
Ada cerita tentang orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Tentang karyawan yang didorong untuk merasa memiliki.
Tentang disiplin yang tetap dijaga di tengah suasana kekeluargaan.
Tentang pelayanan yang diharapkan tidak hanya profesional, tetapi juga lahir dari ketulusan.
Dan tentang seorang Putu Anom Darmaya yang percaya bahwa sebuah tim akan bekerja lebih baik ketika mereka merasa bukan sekadar bekerja untuk sebuah perusahaan, tetapi menjadi bagian dari keluarga besar di dalamnya.
Di bawah langit Tahuna yang biru, dengan suara ombak sebagai latar, filosofi itu terasa sederhana.
Bekerja bersama. Menjaga bersama. Melayani bersama.
Karena pada akhirnya, resort yang baik bukan hanya tempat yang membuat tamu merasa nyaman.
Tetapi tempat yang membuat mereka merasa diterima seperti keluarga.
Dan dari tepian Tahuna, undangan itu kembali menggema:
“Ndai e sarang Tahuna!”
Mari jo ke Tahuna. (*)

