Manado, swararakyat.id – Aksi unjuk rasa yang digelar Serikat Pekerja (SP) DPD PT PLN UID Suluttenggo untuk memperjuangkan talenta talenta terbaik milik Sulawesi Utara , Tengah dan Gorontalo bisa meniti karir di perusahan milik negara, bukan sekedar pamer saja.
Lihat saja, ketika perjuangan pasukan merah (Serikat Pekerja,red) menyuarakan aspirasi mereka sampai harus bertindak melakukan aksi penyegelan pintu masuk ruangan Human Capital dan Business Partner (HCBP) yang berlokasi di kompleks perkantoran PLN UID Suluttenggo, para buruh PLN ini sampai sampai harus melontarkan kritikan pedas terhadap Vice President (VP) HCBP Area 11PLN (Persero) Jimmy Amanda Aritonang.
Pantauan di lokasi demo, kehadiran orang nomor dua di institusi tersebut yang tiba tiba hadir ditengah tengah massa aksi, dinilai oleh Serikat Pekerja hanya omong kosong belaka. Padahal Aritonang sendiri datang secara khusus ke Manado untuk mendengarkan langsung aspirasi dari para buruh PLN tersebut.
Dalam orasinya di hadapan ratusan buruh, Koordinator Lapangan aksi Christian Walangitan, mengungkapkan kekecewaan mereka yang mendalam. Dimana alasan yang dibeberkan, SP menilai bahwa kebijakan karier di lingkungan PLN UID Suluttenggo selama ini tidak lagi berpihak pada talenta lokal.
“Kami tidak lagi percaya karena manajemen dinilai tidak memberikan kesempatan berkarir yang layak kepada putra-putri terbaik Suluttenggo. Ini bentuk perjuangan kami untuk hak yang adil,” tegas Walangitan melalui pengeras suara.
Bahkan dengan kritikan tajam, kehadiran VP Aritonang justru dianggap tidak membawa angin segar perubahan. Para Serikat Pekerja menilai kehadiran Aritonang tidak lebih dari sekadar lips service saja alias janji manis tanpa tindakan konkret.
“Kehadiran beliau (Aritonang,red) tidak memberikan solusi. Hanya omong kosong bagi talenta Suluttenggo. Kami kecewa,” tuding Joko Susanto, Ketua Umum DPD SP PLN Suluttenggo dengan nada tinggi saat berorasi didepan kantor PLN UID suluttenggo.
Meski aksi berlangsung dengan penyegelan kantor, massa tetap menjaga ketertiban. Mereka berjanji tidak akan berhenti di tingkat daerah.
“Kami akan membawa aspirasi ini ke tingkat pusat. Talent Suluttenggo harus bisa berkarir di kampung halaman sendiri. Ini harga mati,” pungkas Susanto usai memimpin jalannya aksi damai yang berakhir pada sore hari. (*)

