(Sebuah Epik ala Ramoy M Luntungan)
Catatan : Reymoond ‘Kex’ Mudami
Pada akhirnya, kekuasaan selalu menguji bukan saat seseorang naik—
tetapi saat ia turun.
Ramoy Markus Luntungan (RML) tidak meninggalkan kursi Komisaris Utama Bank SulutGo dengan riuh. Ia tidak menegosiasikan sisa waktu. Ia tidak merawat bayang-bayang jabatan. Ia melakukan sesuatu yang sederhana—tetapi justru karena kesederhanaannya, menjadi besar: mobil dinas itu ia kembalikan segera.
Tanpa aba-aba.
Tanpa drama.
Tanpa jeda.
Di ruang publik yang sering permisif pada kelenturan etika, tindakan itu seperti garis tegas yang ditarik di atas pasir: di sini batasnya. Jabatan adalah amanah. Ketika amanah selesai, atributnya kembali.
Tetapi yang lebih menggema bukanlah kendaraan yang masuk kembali ke garasi.
Yang lebih menggema adalah pesan yang ia tinggalkan.
Jaga integritas.
Pertahankan zero fraud.
Rawat efisiensi.
Lindungi marwah Bank SulutGo.
Itu bukan kalimat dari seseorang yang sedang mempertahankan posisi.
Itu kalimat dari seseorang yang sudah selesai dengan posisinya—tetapi belum selesai dengan tanggung jawab moralnya.
Ia mengutip Winston Churchill:
“Success is not the end of satisfaction, failure is not the end of everything, but it matters how long you have the brave heart to keep going.”
-Kesuksesan bukanlah akhir dari kepuasan, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi yang terpenting adalah seberapa lama kamu memiliki hati yang berani untuk terus melangkah.” -.
Dan di titik itu, kutipan tersebut bukan lagi sekadar kata-kata. Ia menjadi cermin. Bahwa keberhasilan tidak membuat seseorang berhak merasa memiliki. Bahwa diganti tidak membuat seseorang kehilangan harga diri. Bahwa yang terpenting adalah seberapa lama keberanian hati itu bertahan—bahkan ketika sorotan telah berpindah.
Ada orang yang besar karena kursinya.
Ada orang yang kuat karena jabatannya.
Tetapi ada sedikit yang justru tampak lebih tinggi ketika kursi itu sudah tidak ada.
Turun tanpa gaduh adalah kedewasaan.
Pergi tanpa getir adalah kekuatan.
Meninggalkan nilai tanpa pamrih adalah kehormatan.
Sejarah mungkin hanya mencatat daftar nama dan periode masa tugas.
Tetapi publik—dalam diam—mencatat cara seseorang menjaga marwahnya di ujung kekuasaan.
Karena pada akhirnya, jabatan bisa dicopot.
Fasilitas bisa ditarik.
Struktur bisa berubah.
Namun karakter—
jika benar-benar dijaga—
tidak pernah bisa diganti.
Dan di situlah seorang ksatria berdiri.
Bukan di puncak kekuasaan,
melainkan di ujungnya.
Salut, Bravo RML…. (*)

